Gerimis Mengundang Senyum

Rintik hujan terdengar jatuh di langit langit tempat tidurku. Pagi yang yang disambut gemiris tiada berhenti. Alunan suara sabung membangkitkan semangat pagi. Mengawali langkah untuk diberkahi. Dibawah rintik hujan ku tunggangi kuda roda dua ku. Menuju tempat dimana disana penuh dengan harapan. Dengan wajah yang berbinar, walaupun rintik hujan membasahi bajuku. Tak lama waktu berlalu, melintas pepohonan yang rindang, melalui lembah dan perbukitan. Akhirnya tujuan ku sampai, yakni dimana tempatku menaruh harapan setiap hari. 

Hari ini adalah jadwalku untuk tugas keluar desaku, yakni kota yang sampai saat ini masih aku banggakan. Namun sesampainya di ruangan itu, berharap untuk berangkat dengan cepat. Namun tertunda, karna masih ada hal yang belum terpenuhi. Dengan ditemani secangkir kopi, menambah rasa semangat untuk menanti. 

Tak lama berselang, terdengar deru suara mesin dan berhenti di depan yang masih terhalang dinding. Dugaan hati sudah pasti, bahwa dialah yang ku nanti. Toko tok suara sepatu semakin mendekat dan berhenti hanya terlihat sepasang kaki mungil nan indah, dibaluti pakaian yang sopan. Hingga terlihatlah olehku bahwa yang terpandang olehku, bibir yang merah merona, alis yang melentik, dan pipi bak patuh dilayang. Tanap sadar hampir dibawah alam sadarku, ada tangan yang menjulur dihadapan ku. Rupanya itulah tangan dengan jemari yang indah memintaku untuk menyambut tangganya. Dengan sigap langsung ku balas salamnya. 

"Apa kabar?" Tanyaku
"Baik". Dengan jawaban yang biasa
"Apa hendpone belum dibenerin?" Tanyaku dengan penuh jawaban
"Belum, masih di konter". Jawabnya sambil menaruh tas di meja.
"Apa kamu tahu?". Tanyaku.
"Apa itu?". Jawabnya dengan cuek.
"Aku rindu". Kataku sambil memandang wajahnya.

Dia hanya tersenyum, dengan tahi lalat memindahkan senyumannya yang ada di pipinya. 

Akupun sibuk dengan apa yang harus ku persiapkan. Dan diapun sibuk dengan kegiatannya. 
Hingga apa yang aku perlukan sudah ku siap semua. Namun kaki ini enggan untuk beranjak dari ruangan itu. Karna wajahnya belum sepenuhnya ku pandang.
Hingga mengulurkan waktu, apa yang harus aku perbuat serta alasan yang harus kuutarakan agar sidia bisa kupandang lebih dekat lagi.
Muncul ide, yakni dengan alasan. Aku kehilangan berkasku yang harus aku bawa. Karna aku tahu bahwa berkas itu terakhir disimpan olehnya. Dengan semangat ku panggil dia.
 "Hei, berkas yang kemarin ku simpan, ditaruh dimana?". Diapun dengan cepat mencari berkas itu. Dan akhirnya ketemu. Otakku teru berfikir, bagaimana dia bisa di dekatku walaupun itu 30 detik, 1 menit atau lebih. Akhirnya aku bertany lagi.

"Ini berkas sudah saya cetak 4 rangkap, kok cuma satu". Tanyaku. Diapun bergegas mencari, namun berkas yang lainnya belum juga ditemukan. Dengan nada tenang,
"Coba difikir kembali!" Kataku
Akhirnya dia ingat lupa,
"Kalo gk salah berkas lainnya dengan pak atasan?". Jawabany sambil mencari di sampingku.
"Oh, coba ditelpon dengan handponeku!". Kataku.
Diapun langsung menelpon. Saat itu angin terasa berhembus, dan bunga bertaburan di sekelilingku. Karna yang kudapat, bisa memandangnya dengan jarak yang begitu dekat. Aku tak bisa berkata apa, terdiam hanya memandang wajah indahnya. Ku elus pipinya, ku pegang tangannya dan kucuri pandangannya. Berselang sekitar satu menit, percakapan di handponepun terhenti. Dan ia bergegas keluar ruangan ku. Aku merasa senang dan bahagia sekali, walaupun itu hanya sesaat. Namun itu adalah kenangan yang mudah untuk dilupakan. Dan akhirny waktu brlalu. Akupun bergegas berangkat menuju kotaku. Namun didalam perjalanan yang ada hanyalah wajah dan senyumannya sja yang teringat olehku. Hingga malam ini yang sudah menunjukkan pukul 23.00.
Dan malam ini, aku berharap esok pagi dapat bersua dengannya.
See you next tomorrow. 

Comments

Popular posts from this blog

Rasa ini

Apa Daya

Tak Tahu